Rabu, 29 November 2017

Keuntungan dan Kerugian Sistem Cerdas beserta Pandangan Penggunaan Cerdas

TEKNOLOGI SISTEM CERDAS


MODOBAG (Bidang Industri)


KEUNTUNGAN
1.      Memudahkan pemakai dalam membawa koper
2.      Koper bisa di kendarai
3.      Ada fasilitas charger dikopernya
KERUGIAN
1.      Koper untuk kalangan atas, karna harganya yang sangat mahal.
2.      Diproduksi nya tidak banyak.
3.      Menjadi ketergantungan pada teknologi.

Pandangan sistem cerdas untuk Indonesia.

Semoga lebih banyak teknologi sistem cerdas di indonesia karna memudahkan masyarakat dalam melakukan aktifitas. Tapi digunakan untuk hal yang positif jangan digunakan untuk hal yang negatif. Lalu jika sudah ada teknologi sistem cerdas jangan dirusak, karna banyak masyarakat yang merusak barang barang umum. lalu indonesia harus buat teknologi sendiri, tidak perlu membeli di negara lain. Jika sudah ada teknologi sistem cerdas buatan indonesia lebih dikembangkan lagi.

PERBANDINGAN 3 NEGARA ASIA TENTANG SISTEM CERDAS DI BIDANG TEKNOLOGI


1. Hotel di Jepang pekerjakan robot resepsionis


Pada Juli 2015 mendatang, Hotel Henn-na akan dibuka di Kota Sasebo, Jepang. Di meja resepsionis hotel tersebut, hanya ada dua pegawai manusia asli. Sedangkan 10 sisanya merupakan robot yang mirip manusia.Robot-robot itu akan menyambut tamu, mengangkat tas-tas, dan bahkan membersihkan kamar setelah tamu sudah pergi.
Dilengkapi dengan wajah dan tubuh perempuan yang sangat realistis, robot-robot ini dirancang untuk berbincang dalam sejumlah bahasa dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tamu di hotel dengan 72 kamar itu.Hotel Henn-na itu memiliki tujuan untuk memberikan pengalaman yang berbeda dengan memanfaatkan teknologi tinggi kepada para tamu. Salah satu wujudnya ialah perangkat pengenalan wajah untuk membuka pintu sehingga tamu tidak lagi memerlukan kunci kamar.
Walaupun ini tidak berarti semua staf resepsionis dan porter sekarang terancam dengan kebangkitan pelayanan robot, industri perhotelan secara keseluruhan sangat menerima perkembangan teknologi baru.


2. Korea Selatan kembangkan robot bedah


Seoul - Peneliti di Korea Selatan tengah mengembangkan robot yang membantu dalam operasi pasien, kendati memang diakui pengembangan teknologi ini masih lebih mahal daripada operasi konvensional. Robot ini memungkinkan dokter untuk melakukan operasi rinci dengan sayatan minimal, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi dan nyeri, serta waktu pemulihan lebih cepat. 
Para dokter mengatakan, robot akan berguna untuk operasi tumor ganas di daerah seperti hati. Menurut mereka, robot operasi adalah pengembangan paling maju dalam bedah invasif minimal, meskipun laporan mengenai robot yang membantu operasi pengangkatan tumor di atau sekitar pankreas atau di saluran empedu masih sangat kecil."Metode operasi semacam ini sebagian besar dilakukan melalui laparotomi (insisi di perut) karena merupakan prosedur yang sangat sulit.
Namun, semakin banyak ahli bedah melakukan operasi menggunakan robot," kata Park Min-soo dari Rumah Sakit Universitas Kyunghee.Menurut dokter, operasi kanker tiroid menggunakan robot lima kali lebih mahal daripada metode konvensional yang dilindungi oleh asuransi kesehatan nasional."Operasi Robotic meninggalkan hampir tidak ada bekas luka dan memberikan pandangan yang lebih luas bagi para dokter selama operasi. Namun, biaya operasi masih sangat memberatkan pasien," kata Park seperti dilansir Yonhap.


3. Indonesia mengembangkan Teknologi Robot


Menurut Managing Director Lego Mikrobot, Bambang Rusli. Saat ini penerapan teknologi robot di Indonesia secara umum di bidang industri masih sangat terbatas dan disebabkan dua faktor yaitu tenaga ahli yang kurang dan biaya operasional yang mahal.Perusahaan akan lebih memilih tenaga kerja manusia karena biayanya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan tenaga kerja dalam bentuk robot.Dijelaskan, penerapan teknologi robot di bidang pendidikan justru sudah cukup besar.
Meskipun begitu, penerapannya masih belum merata. Tenaga pengajar maupun infrastruktur pendidikan Indonesia belum siap dengan penerapan teknologi robot.Teknologi robot saat ini masih belum bisa diterapkan di Indonesia karena ketidaksiapan berbagai faktor, misalnya faktor pengangguran yang masih tinggi.Secara financial, Indonesia juga masih belum siap dengan cost (biaya) yang harus dikeluarkan untuk penerapan teknologi tersebut, ujar Bambang. 

Kesimpulan :
Jadi kesimpulannya yang telah di sampaikan di atas perbandingan antara negara di asia terutama pada perbandingan di atas indonesia masih jauh tertinggal lumayan dari negara negara lainnya di asia(jepang,korea selatan) yang diharapkan pemerintah dapat lebih memberikan apresiasi dan perhatiannya kepada para pelaku di bidang robotika, baik itu pencipta maupun pengguna. Dikatakannya, pemerintah juga harus memberikan edukasi dan memotivasi kreativitas masyarakat, khususnya anak-anak.

Sumber :
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/06/150602_bisnis_hotel_robot
http://www.antaranews.com/berita/603538/korea-selatan-kembangkan-robot-bedah
http://kelasofah.ilearning.me/2016/04/10/perkembangan-robot-di-indonesia-vs-negara-maju/


Senin, 30 Oktober 2017

Peng. Teknologi Sistem Cerdas Bidang Industri


MODOBAG



VISI : 
Mewujudkan Teknologi sistem cerdas terbaru, 
MISI:
Memudahkan masyarakat dalam membawa koper
Mempunyai fasilitas tersendiri didalan kopenya


Berlibur kemanapun akan menuntut kamu membawa serta banyak barang, kadang sampai membuat koper kamu menjadi terlalu berat. Tidak bisa dihindari lagi ketika keberangkatan dan kepulangan kamu saat berlibur akan menyisakan rasa lelah karena bawaan yang berat itu. Memang saat ini produk koper di pasaran telah dilengkapi roda serta pegangan dengan tuas yang bisa ditarik. Namun, tetap saja kamu butuh tenaga untuk menarik beban kopernya. Nah, bagaimana jika ada koper yang bisa bergerak sendiri tanpa diseret kemana-mana?   
Koper yang dapat bergerak tersebut diberi nama Modobag. Modobag adalah koper beroda yang bisa kamu naiki dan kendarai saat bepergian; seperti misalnya di bandara, stasiun, terminal atau jalanan lain yang memiliki permukaan mulus. Koper ini dikembangkan oleh Green Energy Motors, perusahaan Modobag, yang saat ini sedang menggalang dana di situs crowdfunding Indiegogo.

Apa saja kelebihan ModoBag selain bisa dikendarai?

Modobag memiliki setang dan pijakan kaki yang berguna saat kamu mengendarainya. Selain itu, koper ini bisa mengisi ulang baterai ponselmu dengan port USB ganda. Modobag juga dilengkapi dengan unit pelacakan GPRS/GSM yang memungkinkan pemilik memantau dari ponsel mengenai keberadaan kopernya saat hilang.

Bagaimana Spesifikasi ModoBag?


Modobag menggunakan motor listrik bertenaga 200 watt yang didukung dengan baterai lithium. Kecepatan Modobag dalam berkendara dapat dipacu hingga kecepatan maksimal 12 km/jam. Sistem pengeremannya pun ganda sehingga aman. Modobag mampu dikendarai hingga jarak sejauh 9,6 km untuk sekali pengisian dengan berat badan maksimal pengguna adalah 90 kg. Modobag dalam keadaan kosong tanpa isi hanya berbobot 9,5 kg.
Berapa harga ModoBag?
Untuk mendapatkan koper inovatif ini, kamu bisa menyumbang sebesar 995 Dolar AS pada Indiegogo atau setara dengan 13 juta Rupiah supaya mendapatkan antrian awal. Jika stok untuk antrian awal telah habis, maka harga standar untuk satu unit Modobag adalah sebesar 1.199 Dolar AS atau setara 15,7 juta Rupiah. Pembelian setelah antrian awal ditargetkan produk dapat terkirim ke tempatmu pada bulan Januari 2017.

Tertarik untuk memiliki Modobag? Produk ini dijamin akan jadi rebutan antara kamu dan saudara-saudaramu, jadi pastikan masing-masing dari kalian punya sendiri. Akan menyenangkan jika kamu dan keluargamu berkeliling bandara dengan Modobag ketika menunggu penerbangan.

sumber : https://news.idntimes.com/world/bayu/perkenalkan-modobag-koper-yang-gak-akan-bikin-kamu-capek/full

Selasa, 19 September 2017

TEKNOLOGI SISTEM CERDAS

 TEKNOLOGI SISTEM CERDAS

     A.     Definisi Pengantar Teknologi Sistem Cerdas
Pengantar Teknologi Sistem Cerdas merupakan salah satu cabang Ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pemanfaatan mesin untuk memecahkan suatu masalah yang rumit dengan cara yang lebih manusiawi. Pengantar Teknologi Sistem Cerdas adalah serangkaian system yang di bangun manusia untuk memudahkan pekerjaan manusia dengan mengandalkan mesin atau sebuah program yang terkomputerisasi. atau biasa disebut dengan kecerdasan buatan atau kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah atau kecerdasan entitas ilmiah. Sistem seperti ini umumnya dianggap komputer. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia. Beberapa macam bidang yang menggunakan kecerdasan buatan antara lain sistem pakar, permainan komputer (games), logika fuzzy, jaringan syaraf tiruan dan robotika.
     B.     Sejarah Teknologi  Sistem Cerdas
Artikel ilmiah yang pertama tentang Kecerdasan Buatan ditulis oleh Alan Turing pada tahun 1950, dan kelompok riset pertama dibentuk tahun 1954 di Carnegie Mellon University oleh  Allen Newell and  Herbert Simon. Namun bidang Kecerdasan Buatan baru  dianggap sebagai  bidang  tersendiri di  konferensi  Dartmouth tahun 1956, dimana 10 peneliti muda memimpikan mempergunakan komputer untuk memodelkan bagaimana  cara berfikir manusia. Hipotesis   mereka   adalah "Mekanisme berfikir   manusia   dapat   secara   tepat dimodelkan dan disimulasikan pada komputer  digital",  dan  ini yang  menjadi  landasan dasar Kecerdasan Buatan.
      C.      Contoh Penerapan Teknologi Sistem Cerdas di Kehidupan Sehari-hari

Smart Card secara bahasa berarti kartu pintar. Mengapa ia disebut pintar? karena ia memiliki mikroprosesor yang dapat melakukan perhitungan, fungsi logika dan sebagainya seperti layaknya prosesor pada komputer / laptop Anda.
Dalam buku Smart Card Handbook, dijelaskan sedikit sejarah tentang smart card. Pada awalnya, smart card tidak sepintar sekarang (tidak ada mikroprosesor). Smart card hanyalah sebuah kartu dengan nama pemiliknya. Digunakan sebagai alat pembayaran yang berdasarkan atas kepercayaan dan status pemilik kartu tersebut. Kartu ‘pintar’ ini pertama kali digunakan di Diners Club pada tahun 1950. 
Sebagai alat penyimpan data, kartu ini menyimpan nama pemiliknya. Waktu berganti, kemudian muncul berbagai tambahan seperti nama pemilik yang diembos (timbul), tanda tangan pemilik yang tujuannya adalah menghindari pemalsuan kartu. Semakin lama, hal ini kurang efektif untuk menjaga keamanan kartu. Selain itu, perkembangan teknologi membutuhkan kartu agar dapat dibaca dan diproses menggunakan komputer. Perkembangan pertama yang cukup revolusioner adalah magnetic stripe pada bagian belakang kartu.

Magnetic stripe dapat menyimpan data seperti nama pemilik, nomor kartu dan lain halnya sehingga komputer dapat melakukan pemrosesan data pada smart card. Untuk lebih jelas tentang magnetic stripe dapat membaca tulisan saya Magnetic Stripe Si Hitam Manis.
Walaupun inovasi magnetic stripe cukup revolusioner, tapi tetap saja teknologi ini dapat dikelabui juga oleh oknum yang tidak bertanggung jawab (baca : kalau mereka bertanggung jawab, mereka pasti laporan ke pihak berwajib). Hingga akhirnya, inovasi yang dirasa cukup kuat untuk menjaga keamanan kartu muncul. Inovasi tersebut adalah menggunakan mikroprosesor beserta dua saudara kembar RAM – ROM dan Flash.
Mikroprosesor dapat ‘berpikir’ dan melakukan analisis serta perhitungan. Ia dapat menolak atau menerima perintah yang diberikan kepadanya sehingga penyalahgunaan kartu dapat dihindari. Itulah mengapa smart card menggunakan mikroprosesor (baca: bahasa kerennya chip).


Sumber :






Kamis, 15 Juni 2017

Service Level Agreement (SLA) & Operational Level Agreement (OLA)

Service Level Agreement (SLA)

SLA merupakan kesepakatan formal yang dapat dinegosiasikan guna mengidentifikasi harapan, tanggung jawab, dan memfasilitasi komunikasi antara penyedia produk/layanan (supplier) dengan pelanggannya (costumers) yang diukur dengan jangka waktu tertentu. SLA diperlukan untuk menjembatani perbedaan harapan, mendefinisikan kewenangan dan tanggung jawab masing-masing pihak sekaligus menjadi alat ukur efektifitas penyediaan produk/layanan oleh supplier.
Sebelum membuat SLA, terlebih dahulu harus dipahami dahulu tentang unsur- unsur yang terkait SLA yaitu Supplier, Input, Proses, Output, dan Costumer (SIPOC). Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
  • ·        Supplier merupakan pihak yang memberikan sumber daya kepada organisasi               untuk menjalankan proses menghasilkan produk/layanan;
  • ·        Input    adalah segala sumber daya yang digunakan dalam proses menghasilkan       produk/layanan, meliputi Manusia, Mesin, Metode, Material dan LingkungaN         (Mother Nature);
  • ·    Proses  merupakan serangkaian aktivitas untuk menghasilkan produk/layanan, meliputi Proses Utama yaitu proses yang dilakukan untuk menghasilkan produk; Proses Pendukung yaitu proses yang dilakukan untuk mendukung proses utama; dan Proses Manajemen yaitu proses yang dilakukan untuk menyempurnakan proses utama;
  • ·        Output adalah berupa produk/layanan yang dihasilkan dari suatu proses; dan
  • ·     Costumer adalah pihak yang menerima/membutuhkan produk/layanan dari suatu             organisasi.


      Pembuatan atau penentuan SLA sebaiknya melibatkan seluruh pihak terkait dalam suatu organisasi, agar diperoleh kesepakatan bersama. Pembuatan SLA ini melalui beberapa tahapan sebagai berikut :
  • ·Untuk membuat SLA yang perlu dipahami adalah tidak semua produk/layanan harus memiliki SLA. Buatlah SLA untuk produk/layanan yang benar-benar critical, dominan terhadap kebutuhan pelanggan.
  • Menentukan pihak-pihak yang terlibat, karena SLA merupakan kesepakatan antara pelanggan dengan penyedia (supplier).
  •  Menetapkan harapan pelanggan dan syarat-syaratnya
  • ·Memetakan proses dan aktivitasnya dalam menyediakan produk/layanan tersebut.
  •  Mengukur waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk/layanan tersebut.
  •  Melakukan negosiasi untuk mendapatkan kesepakatan waktu penyelesaian dari produk/layanan dimaksud.


Contoh kasus :
Seorang manajer toko baru saja selesai bertelepon dengan rekannya di lokasi gudang. Ia terlihat cukup kesal dengan hasil pembicaraan tersebut. Kekesalannya bermula ketika salah seorang staf menyampaikan bahwa kiriman barang yang diterima tidak sesuai dengan daftar barang yang diminta. Beberapa barang tidak sesuai jumlah maupun ukurannya. Bahkan beberapa barang yang tidak dipesan, ikut dimasukkan. Tentunya kesalahan ini tidak akan menjadi masalah besar baginya jika kiriman barang – barang tersebut merupakan permintaan rutin untuk mengisi persediaan barang yang kosong. Hanya saja permintaan kali ini digunakan untuk program promosi toko yang sudah dimulai sejak kemarin. Ia mulai kesal memikirkan besarnya potensi penjualan yang terbuang akibat tidak adanya barang saat dibutuhkan dan kekecewaan konsumen karena tidak dapat membeli barang yang diinginkan. Ketidaktepatan waktu pengiriman, ketidaksesuaian barang merupakan contoh dari hasil layanan yang tidak sesuai harapan, yang berujung tidak hanya pada kekecewaan dari pihak internal penerima layanan tapi dapat juga berdampak pada pencapaian target – target perusahaan. Pelanggan yang kecewa, transaksi penjualan yang tidak terjadi tentunya merupakan dampak langsung bagi bisnis perusahaan.
Sebelum sampai dan dirasakan pelanggan, suatu produk atau layanan yang diberikan telah melewati rangkaian aktivitas atau proses yang saling terkait dalam internal perusahaan. Output suatu unit dapat menjadi input bagi unit lainnya. Jika salah satu dari rangkaian layanan internal yang diberikan tersebut bermasalah, kemungkinan besar hasil akhir yang diberikan dapat tidak sesuai dengan yang dijanjikan kepada pelanggan atau minimal ‘memaksa’ unit lain berupaya lebih untuk memperbaikinya agar hasil akhir tetap sesuai. Jika unit gudang berusaha memperbaiki layanan pengiriman barang kepada toko dengan kembali mengirimkan barang yang benar, maka unit pengantaran yang akan terkena dampak untuk turut terlibat memperbaiki kesalahan tersebut. Tidak sesuainya layanan yang diberikan seperti kasus di atas sebenarnya dapat dicegah jika sejak awal terdapat kesepakatan antara pemberi layanan dan penerima layanan mengenai bentuk layanan yang diberikan. Kesepakatan bentuk layanan ini dapat dilakukan dengan menggunakan Service Level Agreement (SLA).
SLA yang selama ini lebih banyak dikenal penggunaannya dalam layanan teknologi informasi, dapat juga dimanfaatkan untuk bentuk – bentuk layanan lainnya. Dengan adanya SLA, output yang dihasilkan dari suatu aktivitas memiliki kejelasan ukuran keberhasilan layanan dari sisi kualitas, kuantitas ataupun waktu penyelesaiannya. Ukuran keberhasilan layanan tersebut merupakan kesepakatan dari pihak – pihak yang terlibat yang sudah mengakomodasi harapan penerima layanan dan kemampuan dari pemberi layanan.  SLA ini kemudian dapat digunakan untuk mempermudah koordinasi dan komunikasi antar pihak yang terlibat serta menjaga konsistensi output atau layanan yang diberikan kepada pelanggan internal maupun eksternal. Sebagai bentuk ukuran keberhasilan layanan, SLA juga dapat digunakan untuk ukuran kinerja dari unit atau karyawan pemberi layanan tersebut.
Dengan menjadikannya sebagai salah satu ukuran kinerja, kepastian pemenuhannya akan lebih terjaga. Karyawan atau unit yang terlibat akan memperhatikan dan berupaya lebih untuk memenuhi SLA dan tentunya dapat mendorong produktivitas karyawan dan unitnya. Tidak sekedar memenuhi ukuran keberhasilan layanan, pengelolaan SLA dapat menjadi salah satu acuan untuk meningkatkan proses layanan perusahaan untuk semakin lebih baik lagi. Kinerja layanan yang baik pada akhirnya dapat memberikan dampak positif bagi pencapaian target – target perusahaan.

Kesimpulan :
Pelanggan tentunya memiliki harapan terhadap suatu produk/layanan, namun sebaliknya penyedia memiliki kewenangan yang terbatas dan memerlukan waktu proses untuk menyediakan produk/layanan tersebut. Untuk itulah diperlukan SLA yang dapat menjembatani perbedaan harapan, mendefinisikan kewenangan dan tanggung jawab masing-masing pihak serta pada akhirnya diperoleh kesepakatan bersama.


Operational Level Agreement (OLA)

            Perjanjian tingkat operasional (operational level agreement / OLA) adalah kontrak yang menentukan bagaimana berbagai kelompok TI dalam perusahaan berencana memberikan layanan atau rangkaian layanan. OLAs dirancang untuk mengatasi dan memecahkan masalah TI dengan menetapkan seperangkat kriteria tertentu dan menentukan rangkaian layanan TI tertentu yang masing-masing departemen bertanggung jawab. Perlu dicatat bahwa istilah Service Level Agreement (SLA) digunakan di banyak perusahaan saat membahas kesepakatan antara dua kelompok internal, namun sesuai dengan kerangka kerja ITAP untuk praktik terbaik, jenis kontrak internal ini harus disebut Sebuah Perjanjian Tingkat Operasional.

Enam cara untuk membuat OLA
1. Tentukan semua layanan TI yang bertanggung jawab dalam Katalog Layanan.
2. Sebagai CIO, terlibat dalam proses ini dengan memahami apa yang dibutuhkan masing-masing layanan.
3. Tentukan pemain kunci (tim jaringan, kelompok server, dll) dan tanggung jawab mereka.
4. Letakkan setiap harapan kelompok TI untuk mengirimkan setiap layanan.
5. Datang dengan rencana kontingensi untuk kejadian tak terduga.
6. Uji dan uji ulang OLA, dan buat perubahan bila diperlukan. OLA, seperti SLA, seharusnya tidak statis dan harus memiliki tanggal mulai, tengah dan akhir.


Daftar pustaka
Bahan Ajar Diklat Service Level Agreement Kediklatan diterbitkan oleh Pusdiklat Keuangan Umum Kementerian Keuangan Republik Indonesia, 2013.


Rabu, 17 Mei 2017

KERANGKA KERJA MANAJEMEN LAYANAN SIM

3 KERANGKA KERJA


    1.      COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology)
Merupakan audit sistem informasi dan dasar pengendalian yang dibuat oleh ISACA dan ITGI pada tahun 1992. COBIT berada pada level atas yang dikendalikan oleh kebutuhan bisnis, yang mencakupi seluruh aktifitas teknologi informasi, dan mengutamakan pada apa yang seharusnya dicapai dari pada bagaimana untuk mencapai tatakelola, manajemen dan kontrol yang efektif. COBIT Framework bergerak sebagai integrator dari praktik IT governance dan juga yang dipertimbangkan kepada petinggi manajemen atau manager; manajemen teknologi informasi dan bisnis; para ahli governance, asuransi dan keamanan; dan juga para ahli auditor teknologi informasi dan kontrol.

KELEBIHAN
KEKURANGAN
§ Rahasia
§ Proteksi terhadap informasi yang sensitif dari akses yang tidak bertanggung jawab.
§ Integritas
§ Berhubungan dengan penyediaan informasi yang sesuai untuk manajemen.
§ Secara umum dapat dikatakan bahwa COBIT merupakan sebuah model tata kelola TI yang memberikan sebuah arahan yang lengkap mulai dari sistem mutu, perencanaan, manajemen proyek, keamanan, pengembangan dan pengelolaan layanan. Arahan dari COBIT kemudian didetailkan kembali oleh beberapa model framework sesuai dengan perkembangan keilmuan.
§ COBIT hanya memberikan panduan kendali dan tidak memberikan panduan implementasi operasional. 
§ COBIT hanya berfokus pada kendali dan pengukuran.


    2.      ITIL (Information Technology Infrastructure Library)
Information Tecnology Infrastructure Library adalah sebuah rangkaian Konsep dan teknik pengelolaan infastructure, pengembangan serta pengoprasian teknologi informasi (TI). ITIL diterbitkan oleh sebuah buku yang masing-masing didalamnya membahas sautu topik pengelolaan Teknologi Informasi. Nama ITIL dan IT Ifrastructure Liberary merupakan merek sebuah produk terdaftar dari Office Government commerce(OGC) Britania raya. ITIL memberikan dekripsi detail tentang praktik penting dengan daftar Cek, tugas dan prosedur yang menyeluruh yang dapat disesuaikan dengan segala jenis Organisasi TI.
KELEBIHAN
KEKURANGAN
§ Memberi deskripsi rinci sejumlah praktik penting TI dan menyediakan daftar komprehensif tugas dan prosedur yang didalamnya setiap organisasi dapat menyesuaikan dengan kebutuhannya sendiri
§ ITIL bukan merupakan standard yang memberikan prescription tetapi lebih kepada merekomendasikan, oleh karena itu implementasi antara satu organisasi dengan organisasi lain dapat dipastikan terdapat perbedaan. Dengan demikian kita tidak bisa membandingkan / melakukan benchmark secara pasti
§ Kelemahan ITIL antara lain: buku-buku ITIL sulit terjangkau bagi pengguna non komersial, ITIL bersifat holistic yang mencakup semua kerangka kerja untuk tatakelola TI, pelaksanaan pedoman dalam buku ITIL memerlukan pelatihan khusus dan biaya pelatihan atau sertifikasi ITIL terlalu tinggi.

     3.      MOF (Microsoft Operations Framework)
MOF mencakup SDM, proses/prosedur, dan teknologi. MOF dikembangkan dari IT Infrastructure Library dari OGC di Inggris. Microsoft Operations Framework (MOF) terdiri daribest practice, prinsip, dan kegiatan yang memberikan panduan komprehensif untuk mencapai kehandalan untuk solusi dan layanan Teknologi Informasi (TI). MOF menyelenggarakan kegiatan dan proses TI dalam fungsi manajemen layanan (SMF), yang berlangsung dalam siklus hidup yang terdiri dari tahapan perencanaan, penyampaian, operasional, dan pengelolaan. ISO/IEC 20000 menunjukkan bahwa organisasi berorientasi pada kualitas dengan memberikan layanan TI yang efisien dan efektif. ISO/IEC 20000 terdiri dari ISO/IEC 20000-1 dan ISO/IEC 20000-2. ISO/IEC 20000-1 adalah spesifikasi auditable dengan mendefinisikan persyaratan untuk sertifikasi.
Sedangkan ISO/IEC 20000-2 adalah kode praktek yang berisi rekomendasi dan bimbingan untuk membantu organisasi mencapai sertifikasi.
MOF adalah sekumpulan prinsip, teknik, dan model teruji di lapangan (best practices) untuk mengelola layanan TI, dengan tujuan:
  v  Mencapai target service level: availability, reliability, supportability, managability.
  v  Menciptakan infrastruktur TI yang adaptif.

KELEBIHAN
KEKURANGAN
§ Mengurangi risiko dengan adanya koordinasi antar tim.
§ Dapat mengenali dampak yang terjadi jika dikaji dengan kebijakan yang ada.
§ Mengantisipasi dan mengurangi dampak dari mitigasi.
§Menemukan kemungkinan permasalahan integrasi sebelum produksi
-


ilmukomputer.org/wp-content/uploads/2013/05/dani-MOFtoISO.pdf